Langsung ke konten utama

Kesalahan-Kesalahan Logika dalam Berdebat Bag.2

infodunia-pendidikan.blogspot.com. Setelah pada Artikel sebelumnya mengenai Kesalahan-Kesalahan Logika dalam Berdebat Bag.1 telah kita sampaikan 3 kesalahan logika yang sering sekali dilakukan pihak-pihak yang berdebat, sehingga hanya menyebabkan debat kusir yang hanya menghasilkan sesuatu yang negatif tanpa penyelesaian masalah. Debat kusir hanya menimbulkan perasaan negatif. Berikut kita lanjutkan artikelnya kali ini Kesalahan-Kesalahan Logika dalam Berdebat Bag.2

kesalahan dalam berdebat

 4.   Argument from authority (Argumentum ad verecundiam)
Menggunakan kata-kata “para ahli” atau membawa-bawa otoritas sebagai dasar dari argumen daripada menggunakan logika dan fakta untuk mendukung argumen itu.
Contoh :
•   Profesor X, Doktor Y dari  Pusat Riset  ABC  mengatakan berdasarkan penelitian ilmiah  bahwa teori evolusi itu tidak dapat dibuktikan,  dan yang benar adalah teori inteligent-design..
•   Di Amerika pernah ada penelitian bahwa ketika orang yang meninggal ditimbang secara teliti, maka bobotnya berkurang sedikit. Ini membuktikan adanya roh yang meninggalkan tubuhnya
.
Sesuatu tidak lantas menjadi benar hanya karena suatu otoritas mengatakan sesuatu hal. Bila pendebat memberikan testimoni dari seorang ahli, lihat apakah dilengkapi dengan alasan yang logis dan masuk akal, serta hati-hati terhadap keotentikan sumber dan evidence (bukti) di belakangnya. Seringkali suatu penelitian dibuat seakan-akan canggih dan kredibel tetapi setelah dicek ke komunitas profesinya ternyata tidak mendapatkan pengakuan ataupun ditolak mentah-mentah sebagai pseudo-science. Bahkan ada nama-nama ahli atau pusat riset tertentu yang fiktif belaka.

Perhatikan juga karena seringkali, yang bersangkutan mengutip penelitian tersebut secara sepotong-sepotong (tidak lengkap) dan out of context (keluar dari konteks).


5.   Argument from adverse consequences
Contoh :
•   Bencana terjadi karena Dewa menghukum orang yang tidak percaya; oleh karena itu kita harus percaya kepada Dewa.


Hanya karena suatu bencana seperti gempa bumi atau gunung meletus terjadi, tidak mengatakan sesuatu mengenai eksitensi maupun non-eksistensi dari sesuatu. Ataupun tidak menyatakan suatu keharusan untuk mempercayai sesuatu (yang tidak berkaitan secara ilimiyah).

6.   Menakut-nakuti (Argumentum ad Baculum)
Argumen yang didasarkan pada tekanan atau rasa takut.
Contoh:

•   Apabila anda tidak mengakui bahwa pendapat saya adalah benar, maka anda adalah seorang pengkhianat.

Penjelasan:
Dengan menakut-nakuti, menekan ataupun mengancam, justru menunjukkan betapa lemahnya argumen mereka tanpa bisa memberikan bukti ataupun support atas argumentasinya itu. Biasanya hal ini dilakukan apabila yang bersangkutan sudah merasa kepepet dan tidak tahu lagi apa yang harus diargumentasikan untuk mempengaruhi si lawan bicaranya.

7.   Argumentum ad ignorantiam
Suatu argumen yang mempelesetkan ketidaktahuan seseorang sebagai pendukung atas kebenaran argumennya.
Contoh:
•   Pernyataan kami pasti betul karena tidak ada yang pernah membuktikan salah.
•   Anda tidak bisa membuktikan hal yg sebenarnya tentang perguruan kami, maka semua yang anda katakan itu pasti salah sedangkan pendapat saya pasti benar (karena kami orang dalam).


8.   Argumentum ad populum
Argumen yang digunakan untuk mendapatkan popularitas dengan menggunakan issue-issue yang sentimental (emosional) daripada menggunakan fakta atau alasan yang rasional.
Contoh:

•   Mengapa anda terus menerus membantah argumen kami? Bukankah saya sudah memperlakukan anda dengan ramah?


9.   Bandwagon fallacy
Menyimpulkan suatu ide adalah benar hanya karena banyak orang mempercayainya demikian
Contoh:
•   Sebagian besar orang percaya pada teori X, maka teori tersebut pastilah benar.
•   Aliran X merupakan mayoritas, jadi pastilah aliran tersebut benar.

Hanya karena sekian banyak orang mempercayai sesuatu tidaklah membuktikan atau menyatakan fakta mengenai sesuatu. Contohnya adalah ketika Galileo mengatakan bahwa bumi bulat, maka ia ditentang oleh mayoritas orang dizamannya. Mayoritas mengatakan bumi datar tidak serta merta membuktikan kebenarannya.

Bersambung ke Kesalahan-Kesalahan Logika dalam Berdebat Bag.3.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syarat Penting Untuk Mendapatkan NUPTK 2016

Syarat NUPTK 2016 Apa saja Syarat untuk menerbitan NUPTK Tahun 2016/2017?  Sahabat pendidik, sebelum menjawabnya, kita semua tahu, bahwa saat ini sangat banyak keluhan rekan-rekan guru yang belum memiliki Nomor unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Oleh karena itu agar jelas dan tidak membuat rekan guru galau, maka pada posting kali ini admin blog guru-id akan berbagi beberapa syarat yang menentukan diterbitkan atau tidaknya NUPTK guru dan salah satunya mengenai perhitungan Rasio Siswa Dan Guru sesuai dengan peraturan Pemerintah (PP) nomor 74 tahun 2008 . Jika Rasio guru dan siswa terpenuhi maka dengan syarat tersebut jadi acuan segala jenis tunjangan yang juga erat kaitannya dengan Nomor Unik Pendidikan dan tenaga kependidikan. Untuk lebih jelasnya berikut info syarat penerbitan NUPTK 2016. silakan baca artikelnya berikut. Pertama : Sudahkah sekolah anda melakukan verval PTK lewat akun sekolah (vervalptk.data.kemdikbud.go.id)? disitu akan diminta upload ijazah S1 serta fo...

Proses Penyusunan Laporan Keuangan

Sebagai suatu komoditi, laporan keuangan yang dihasilkan sendiri oleh manajemen, yang kegunaannya akan dikonsumsi oleh banyak pihak, harus disajikan dengan cara-cara dan prosedur-prosedur tertentu berdasarkan suatu pedoman yang berlaku. Jadi, penyajian laporan keuangan tidak bisa secara operasional tanpa mengikuti aturan tersebut. Seuatu penyelenggaraan sistem adanya catatan akuntansi harus mencakup keseluruhan aktifitas yang dibutuhkan untuk memberikan kepada manajemen berbagai macam informasi untuk perencanaan, pengendalian dan pelaporan keadaan serta operasi perusahaan. Laporan keuangan pada dasarnya adalah suatu rangkuman dari keseluruhan aktifitas yang dapat menaikkan ataupun menurunkan berbagai aktiva, kewajiban, dan modal perusahaan selama suatu peri ode tertentu. Proses penyajian terdiri dari dua tahap. Tahap pertama disebut tahap pencatatan (recording phase) sedangkan lahar kedua adalah tahap pengikhtisaran (summmarizing phase). Masing-masing tahap saling berkaitan dan tidak b...

Guru Pendidikan Jasmani

Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan layanannya, meningkatkan pengetahuan, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan malah bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa,teman-temannya, serta anggota masyarakat sering menjadi perhatian masyarakat luas. Guru adalah sosok individu yang memiliki kemampuan dalam menransfer ilmu pengetahuan, informasi, atau pengalaman kepada peserta didiknya. Guru juga individu yang melakukan pekerjaannya didasarkan kepada kemampuan dalam mengarahkan pengalaman belajar peserta didik dalam institusi pendidikan. Menurut Makmun (1998:23) guru adalah seorang dewasa yang selalu mengusahakan terciptanya sit...